Bagi Uswati, dini hari menjadi titik pangkal dimulainya kehidupan. Nenek dari satu orang cucu ini sibuk menyalakan tungku perapian. Ketika api sudah siap, Uswati mulai meletakkan kukusan beras dan panci penuh air di atas perapian. Sembari menunggu air mendidih, Uswati mencuci ikan asin, cabai rawit dan daun pakis. Ikan asin tersebut hanya digoreng sedangkan daun pakis hanya ditumis dengan bumbu seadanya. Ikan asin terkadang diganti dengan tahu, tempe atau pindang jika ada kelebihan uang. Setelah lauk pauk siap, Uswati bergegas menuju pemandian umum di selatan rumahnya, pemandian bertembok anyaman bambu dilengkapi dengan bak penampung air yang disemen lengkap dengan pancuran air. Uswati tidak memerlukan ritual berlebihan karena mandi pagi hanya bertujuan untuk menggugah semangatnya, nenek berusia 42 tahun cukup menyisihkan 5 menit untuk membersihkan diri. Sesampainya di rumah, Uswati mempersiapkan sarapan pagi dan bekal makan siang untuk dirinya serta suaminya yang masih berada di kandang kambing belakang rumah mereka. Beberapa saat kemudian suami Uswati sampai di rumah. Uswati dan suaminya pun menikmati sarapan pagi bersama yang dilanjutkan dengan mempersiapkan perlengkapan kerja mereka di perkebunan.
Berbekal sepatu bot, sabit, dan topi bambu, Uswati bergegas pergi ke dalam kebun tebu. Pekerjaan Uswati dan rekan-rekannya pagi ini, dimulai dengan mendengarkan instruksi dari mandor mengenai pembagian kerja. Hari ini Uswati bertugas memangkas tebu bersama dua orang temannya. Pemangkasan tebu bukanlah pekerjaan ringan. Pekerjaan dengan sistem borongan ini harus dilakukan dengan kondisi fisik yang kuat. Para pekerja harus bertahan di bawah paparan sinar matahari langsung selama kurang lebih lima jam, bergulat dengan tebu yang terkadang meninggalkan goresan-goresan di kulit, serta menahan rasa gatal dan perih dari luka yang ditimbulkan daun tebu. Pekerjaan yang berat tersebut diupah antara Rp.17.000 hingga Rp.20.000 per hari dan dibayarkan setiap dua minggu sekali.Total pendapatan Uswati dalam dua minggu antara Rp.170.000 hingga Rp.200.000 tergantung luasan areal yang telah diselesaikannya.
Pekerjaan di perkebunan tebu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup apalagi dijadikan sandaran masa depan yang baik. Upah yang diterima tidak tentu arah, karena bergantung pada kebaikan hati sang mandor. Seringkali upah dipotong oleh mandor dan masuk ke kantong pribadi. Uswati bercerita bahwa ia pernah menerima upah sebesar Rp.75.000 untuk dua minggu dan ia memutuskan untuk berhenti bekerja di perkebunan tebu sementara waktu. “Pak Mandur ruah kemarok, kabenyyaan mun ngalak derih lakonah (Pak Mandor yang itu rakus, terlalu banyak uang yang diambil dari pekerjanya)”, tutur Uswati mengenai alasan ia berhenti bekerja. Ketika mandor diganti dan bersedia menaikkan upah buruh, maka Uswati pun bersedia bekerja kembali.
Pandangan tentang masa depan yang suram tersebut mendorong Uswati untuk segera menikahkan putri pertamanya, bernama Ni’mah, dengan seorang pekerja bangunan yang sehari-hari bekerja di Bali. Uswati sangat berharap, pernikahan dapat membahagiakan Ni’mah. Ni’mah menikah tepat satu tahun setelah lulus SMP pada usia 16 tahun. Tetapi pernikahan dini tersebut kandas dua tahun kemudian saat putra pertama Ni’mah, bernama Fauzan, berusia satu tahun. “Atokar malolo (bertengkar terus)”, kata Uswati sambil menghela nafas. Uswati menyadari bahwa Ni’mah terpaksa menerima perjodohan tersebut karena adat Madura yang mempercayai bahwa ia tak akan laku lagi apabila menolak pinangan seorang laki-laki. Uswati menyesali pemaksaan yang telah dilakukannya. Kini bukan lagi kebahagiaan yang didapatkan Ni’mah melainkan tambahan beban hidup dengan hadirnya seorang anak. Ni’mah bahkan harus berangkat ke Taiwan bekerja sebagai TKI untuk dapat membesarkan dan mencukupi gizi anaknya, seperti kebanyakan perempuan muda di perkebunan. Keputusan berat tersebut harus diambil, lantaran perkebunan tidak akan menjanjikan adanya keberlangsungan pekerjaan apalagi kecukupan nafkah.
Fauzan, putra Ni’mah, kini telah berusia 8 tahun, sudah empat tahun ia tak bertemu ibunya. Fauzan tinggal bersama Uswati dan suaminya di dalam areal perkebunan. Rumah Uswati hanyalah bangunan semi permanen berdinding anyaman bambu, tanpa kamar mandi, sumur atau kakus. Air bersih didapatkan dari sumur umum sedangkan kakus adalah sungai besar yang mengalir di belakang rumahnya, yang terkadang juga dipakai untuk mandi apabila kamar mandi umum terlalu ramai orang. Rumah tersebut sewaktu-waktu bisa dibongkar paksa apabila perusahaan perkebunan menghendaki perluasan areal penanaman. Oleh karena itu rumah tidak boleh dibangun secara permanen menggunakan batu bata dan semen.
Uswati adalah generasi keempat dari buyutnya yang tinggal dan bekerja di perkebunan. Buyut Uswati adalah generasi pertama yang melakukan pembabatan hutan sebelum akhirnya dijadikan perkebunan oleh kolonial Belanda. Uswati menuturkan bahwa buyutnya pernah bercerita kalau Madura tidak lagi ramah dan tengah mengalami paceklik, sehingga buyut Uswati bersama orang-orang Madura yang lain bermigrasi ke daerah Banyuwangi. Alih-alih mendapatkan tanah sebagai sumber penghidupan seperti yang dijanjikan Belanda, buyut Uswati justru kemudian hanya menjadi buruh dari perkebunan Belanda. Dahulu, Buyut Uswati hanya tinggal di gubuk-gubuk yang lebih tepat disetarakan dengan kandang sapi, berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa. Para buruh kebun jaman kolonial tersebut hanya makan pakis yang mereka cari di hutan dan terkadang berburu kijang atau memancing ikan sesekali waktu.
Uswati menghela napasnya sebentar, “Belandeh padhe kiah ban satiya (Belanda sama saja dengan sekarang)”, ujar Uswati. Sejak dahulu sampai sekarang, rumah yang ditempati Uswati dan leluhurnya juga tidak lebih baik dari kandang sapi, berdinding bambu dan tanpa hak milik melainkan hanya hak guna tanah. Pekerjaan yang dikerjakannya pun sama, upah yang diterima sama, dan kualitas nutrisi makanan pun sama. Anak-anak buruh kebun juga tidak mendapatkan pendidikan tinggi di tengah gencarnya kampanye tentang peningkatan mutu pendidikan masyarakat Indonesia. Ni’mah, anak Uswati pun terpaksa harus migrasi ke luar negeri untuk mendapatkan upah yang lebih baik dengan membawa sejuta harapan bahwa kelak Fauzan akan lebih baik darinya.
Uswati dan suaminya tak punya warisan apapun untuk putri beserta cucunya. Satu-satunya warisan yang ada hanyalah rumah di perkebunan yang kini ditempati Uswati beserta pekerjaan di kebun jikalau seandainya Ni’mah menginginkannya. Uswati dan suaminya kini merasa sudah waktunya untuk menguburkan segala keinginannya yang terlalu tinggi. Harapan yang tersisa adalah mereka tetap mampu menikmati masa tuanya tanpa membebani putrinya, walaupun hanya dengan kerja kasar berupah murah. Sisa waktu Uswati dan suaminya tidaklah banyak di dunia ini, mereka hanya berharap kelak ada perubahan entah pada generasi ke berapa. Dalam akhir perbincangan Uswati berujar,”Engkok reng kebon ning, engkok laher e kebun, rajech e kebun, akabin e kebun, mateh iyeh e kebun….kebun riyah sandang pangganah engkok (Saya orang kebun mbak, saya lahir di sini, besar di sini, menikah di sini, kebun itu sandang pangan saya).”. (Rachma Ona Almira)

