Setoran PAD Perkebunan Milik Daerah Jember Jeblok

Setoran PAD Perkebunan Milik Daerah Jember Jeblok

Diposting oleh: Posted date: 14 November 2013 | comment : 0

JEMBER (titik0km.com) – Pendapatan asli daerah (PAD) Jember tahun depan diproyeksikan naik hingga Rp 459 miliar. Tetapi, setoran Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember ke PAD diperkirakan merosot tajam.

Setoran PDP ke PAD tahun depan diperkirakan kurang dari Rp 3 miliar. Tanda-tanda jebloknya setoran PAD dari PDP sudah terlihat tahun ini. Dalam APBD 2013, PDP ditargetkan menyumbang PAD Rp 3,725 miliar. Namun, hingga Desember mendatang diperkirakan hanya terealisasi Rp 3,585 miliar.

Beberapa tahun lalu, PDP pernah menyumbangkan pendapatan diatas Rp 10 miliar. Penurunan setoran PDP itu bakal terjadi lagi tahun depan. Pada 2014 PDP hanya menargetkan setoran ke PAD Rp 2,977 miliar. Selama ini PAD dari PDP merupakan bagi hasil 55 persen dari pendapatan bersih PDP.

Dirut PDP Kahyangan Jember Sujatmiko saat ditemui di kantornya pada hari Rabu (13/11) mengakui anjloknya pendapatan PADP. Tetapi, dia mengatakan, penurunan pendapatan ini sudah diprediksikan oleh perusahaan.

Menurut dia, banyak faktor yang menyebabkan pendapatan PDP merosot. Salah satunya rencana peremajaan tanaman karet. “Sehingga belum bisa diperoleh hasil sama sekali hingga enam tahun ke depan,” katanya. PDP mengelola lahan hak guna usaha (HGU) seluas 4.278 hektare, dengan komoditas utama karet, kopi, kakao, cengkih. Luas lahan karet 2.700 hektare, dengan komposisi tanaman yang baru diremajakan 120,89 hektare (4,48 persen dari total luas lahan).

Sedangkan tanaman menghasilkan sekitar 486,19 hekatre (18 persen), tanaman muda yang menghasilkan 1.678 hektare (54,3 persen), dan tanaman tua menghasilkan 624 hektare (23,13 persen). “Kondisi ini tidak ideal untuk komposisi produksi yang maksimal,” ungkap Sujatmiko, yang didampingi Gatot Hadianto, Kabag Produksi PDP.

Seharusnya, kata dia, komposisi ideal 10:20:60 dan 10 persen. Karena itu, manajemen secara berkala masih terus berusaha agar bisa mencapai komposisi ideal dengan terus melakukan peremajaan. Tahun depan peremajaan dengan bibit unggul akan terus dilakukan. “Perusahaan perkebunan tidak sama dengan usaha lain yang bisa secara langsung mendapatkan pendapatan,” ungkapnya.

Bukan hanya karet, Sujatmiko mengatakan, kondisi tanaman kopi juga tidak ideal. “Saat ini pola tanam hanya 1.000-1.200 tanaman kopi per hektare,” ungkapnya. Seharusnya, bisa sampai 1.400-1.600 tanaman per hektare.

Dengan jumlah tanaman seperti itu, dia mengatakan, produksi kopi PDP hanya 400-600 kg per hektare. Seharusnya, bisa digenjot sampai 800-1.000 kg per hektare. Pemeliharan tanaman di PDP pun sangat kurang. Mestinya, pemupukan tanaman dilakukan setahun dua kali. “Namun, kami baru melakukan pemerliharaan bertahap. Yakni hanya 30-50 persen per tahun,” akunya. Hal ini disebabkan keterbatasan biaya, sehingga tanaman yang dipelihara hanya yang benar-benar potensial.

Selain permasalahan tanaman dan perawatan, Sujatmiko menyatakan, tahun ini pihaknya juga menghadapi kendala cuaca yang tidak menentu. “Anomali cuaca juga mempengaruhi kualitas produksi,” tandasnya. Misalnya kopi, yang memerlukan kondisi basah. Padahal, saat berbunga sekitar Juli sampai Oktober tidak ada hujan, sehingga pembungaan kopi menjadi tidak sempurna. Demikian pula dengan karet, saat hujan turun, kualitasnya menurun drastis. “Yang juga penting, harga mengikuti harga internasional,” ungkapnya.

Penurunan harga komoditas di level internasional juga menyebabkan PDP harus bersusah payah mengumpulkan pendapatan. Sujatmiko menyontohkan, saat ini PDP masih memiliki stok kopi lebih dari 507 ton yang belum terjual. Hal itu disebabkan harga kopi dunia anjlok. Harga saat ini sekitar Rp 18.5 ribu per kg, sedangkan biaya produksinya mencapai Rp 21.130 per kg. Jika stok kopi tersebut dijual sekarang, PDP akan mengalami kerugian.

Selain itu, dia mengatakan, penurunan pendapatan juga terjadi akibat kenaikan pengeluaran rata-rata 15 persen sebagai dampak kenaikan upah buruh dan kenaikan harga barang dan jasa. Karena itu, penurunan pendapatan PDP Kahyangan bukan karena merosotnya kinerja, melainkan karena banyak anggaran yang dialokasikan untuk pemenuhan jamsostek bagi 1.000 lebih buruh PDP. “Jamsostek ini kita berikan secara bertahap,” jelasnya.

Sujatmiko menjelaskan, sebenarnya target pendapatan PDP tahun depan naik menjadi Rp 72 miliar. Sehingga, dari jumlah tersebut yang bisa disetor ke APBD hanya Rp 2,97 M. Penyebabnya, gaji karyawan PDP terus naik dan tidak diimbangi dengan kenaikan jumlah produksi. Sehingga, setelah dihitung, laba bersihnya hanya Rp 5 miliar. Sementara, dalam aturan disebutkan, laba bersih yang bisa disetor ke PAD hanya 55 persen.

Ke depan, Sujatmiko akan berusaha membawa PDP menjadi perusahaan daerah aneka usaha. Bukan hanya mengandalkan sektor perkebunan, melainkan juga dibarengi dengan bisnis di sektor hilir. Salah satunya dengan melakukan penanaman 100 ribu kayu sengon di seluruh kebun. “Masa panennya lebih cepat. Empat tahun minimal bisa dipanen,” katanya.

Selain itu, kopi yang dihasilkan PDP akan diolah, sehingga tidak dijual berasan (mentah, Red) seperti sekarang. Dengan menjual kopi olahan, keuntungan yang didapat PDP menjadi lebih besar. PDP juga berencana mengembangkan agro wisata di Kebun Gunung Pasang, Panti, serta menerapkan pola kemitraan tanam dengan masyarakat untuk mendampingi tanaman yang diremajakan. (rif/ias)

Share Button