Bola, Buruh dan Satpam Gereja

Edisi No. 42 Tanggal 20 Oktober 2013

Bola, Buruh dan Satpam Gereja

Senin, 11 November 2013 15:50 WIB

HIDUPKATOLIK.com – Prinsip upah adil yang dijunjung Gereja, tak boleh menjadi ajaran yang hanya manis didengar,

tapi pahit dalam kenyataan..Jika membaca sejarah sepak bola, ternyata banyak peran buruh di dalam olahraga ini. Tidak percaya? Mari kita mulai dari tempat lahirnya sepak bola modern di Inggris.Sepak bola di Inggris adalah kombinasi antara bir dan kaum buruh.

Berbicara tentang sepak bola di Inggris, jelas tidak afdol jika tak menyebut Manchester United (MU) vs Liverpool. Manchester adalah kota utama dalam revolusi industri abad XVIII yang menghasilkan katun. Sementara Liverpool menjadi pelabuhan dagang paling sibuk di Inggris, yang menghubungkan negeri itu dengan dunia. Ketika terjadi krisis ekonomi di Manchester, Liverpool dipersalahkan karena mahalnya tarif impor katun kasar yang akan diproses di Manchester. Pengusaha di Manchester ambil jalan pintas, dan membuka sendiri pelabuhan. Ini berpengaruh pada pemasukan warga Liverpool, terutama para buruh galangan kapal.

Rivalitas MU vs Liverpool hanya bisa disaingi derbi West Ham United (WHU) vs Milwall. Rivalitas kedua klub tak lepas dari sejarah. Millwall didirikan para buruh di Isle of Dogs, sebuah kawasan berliku di sepanjang Sungai Thames di East End London, sekitar tahun 1885. Lalu pada 1895, sejumlah mandor di pabrik embuatan kapal Thames Ironworks and Shipbuilding Company membuat klub tandingan yang diberi nama Thames Ironworks Football Club, yang kemudian berubah jadi West Ham United.

Malah di Amerika Latin, beberapa klub didirikan para buruh, misal: Corinthians. Klub asal Brasil, yang meraih “CopaLibertadores” 2011/2012 ini, didirikan sekelompok buruh di distrik Bom Retiro di Sao Paulo. Lalu klub Schalke 04 yang bermain di Bundesliga, juga banyak didirikan kaum buruh di Gelsenkirchen, sebuah kota kecil di Jerman yang pernah menjadi penyelenggara Piala Dunia 2006.

Sejak awal, para buruh banyak berperan dalam sepak bola. Bila deskripsi di atas masih kurang, mari kita simak pembangunan infrastruktur lapangan atau stadion sepak bola, pembuatan bola, sepatu bola dan berbagi jersey, semuanya tak lepas dari peran buruh.

Tentu membandingkan gaji buruh dan gaji pemain bola ternama, ibarat bumi dan langit. Transfer Gareth Bale dari Hotspur ke Madrid, kita tahu nilainya Rp 1,6 triliun. Di Madrid, Bale dibayar Rp 5 milyar per pekan atau Rp 523 ribu per menit. Bayangkan di negeri kita, masih ada upah buruh Rp 500 ribu per bulan, sebagaimana dialami orangtua Andik Vermansyah, pemain Persebaya sekaligus Timnas kita. Ibunya bekerja sebagai buruh pabrik, dan ayahnya seorang buruh bangunan dengan upah kecil. Pernah mereka tak mampu membeli sepatu bola bagi putranya.

Perbandingan serupa dapat dikenakan pada gaji pemain bola dengan satpam gereja atau Yayasan Katolik. Di Surabaya dan Sidoarjo, masih cukup banyak buruh (satpam) di Yayasan-Yayasan Katolik digaji di bawah UMK, yakni sekitar Rp 800 ribu per bulan. Padahal UMK kedua kota ini sekitar Rp 1,750 juta per bulan. Dalam pertemuan Messi bersama skuad Argentina dan Italia (14/8), Paus Fransiskus yang punya kartu anggota Klub San Lorenzo berpesan, pentingnya mengenyampingkan pemikiran sepak bola sebagai bisnis. Artinya, jangan sampai segala sesuatu diukur dengan uang.

Hebatnya, pesan Paus itu malah sudah dilakukan sebagian satpam atau buruh yang bekerja di lingkup Gereja atau institusi kristiani. Mereka rela bekerja bertahun-tahun dengan upah murah. Namun di tengah kian mahalnya harga pangan, sandang dan papan, para pejabat Gereja hendaknya bersikap bijak. Paus mengingatkan, mereka yang dibayar murah itu bukanlah orang mati, sindir Paus ketika mengomentari upah rendah para buruh di Bangladesh.

Terus terang, jika tetap digaji amat rendah, jelas akan berdampak buruk bagi kualitas keluarga para buruh di lingkup Gereja. Prinsip upah adil yang dijunjung Gereja, tak boleh menjadi ajaran yang hanya manis didengar, tapi pahit dalam kenyataan. Toh, upah yang diperlukan untuk hidup layak oleh para buruh, tak semahal gaji para pemain bola.

Endang Suarini

 

Share Button