Pada pengalaman pertamaku mengikuti Sekolah Paralegal, aku bertemu dengan Sri Wahyuningsih, seorang pekerja perempuan yang berasal dari Mojokerto. Bu Sri, sapaan akrabnya, selalu antusias ketika mengikuti setiap materi yang disampaikan oleh para narasumber. Sosoknya yang nyentrik dan penuh semangat, mendorongku untuk mengetahui lebih jauh tentang dirinya dan mengapa ia telibat dalam kegiatan ini.
Dalam perbincangan kami, aku mengetahui bahwa Bu Sri adalah sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Meskipun ia bisa saja memilih untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama cucunya setelah bekerja, ia lebih memilih untuk terus belajar di Sekolah Paralegal agar dapat memberikan manfaat bagi sesama pekerja, terutama bagi anggota serikatnya.
Ibu dari dua orang anak ini menjelaskan bahwa dengan terus belajar, ia mampu memperjuangkan hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh pekerja. Ia sadar bahwa tidak semua aspek dalam dunia kerja selalu berjalan dengan baik, dan masalah hukum bisa saja timbul kapan saja.
Selain memiliki kepedulian yang tinggi, Bu Sri juga merupakan sosok yang pemberani. Ia menceritakan bahwa ia tidak ragu berada di barisan terdepan saat terjadi aksi demonstrasi. Bahkan pada satu kesempatan, ia menjadi satu-satunya perempuan yang berdiri di barisan terdepan ketika terjadi demo di tempat kerjanya. Hal ini semakin menunjukkan bahwa ia serius dan memiliki hati untuk rekan-rekan kerjanya, ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Bu Sri adalah contoh nyata bahwa pendidikan tidak mengenal usia dan bahwa pengetahuan dapat menjadi alat yang kuat untuk membantu orang lain. Dengan semangatnya yang tak pernah padam, dia siap menjalani peran barunya sebagai paralegal untuk mendukung teman-teman sekerjanya dan memperjuangkan hak-hak mereka di tempat kerja.
Bu Sri memperlihatkan kepada kita bahwa bekerja dan berkarya adalah dua aspek yang dapat disatukan dalam hidup. Sementara banyak yang mungkin hanya berfokus pada bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Bu Sri memilih untuk bekerja untuk keluarganya sambil memberikan dirinya kepada rekan kerjanya. Kepekaannya terhadap sesama pekerja menjadikan Bu Sri sebagai pribadi yang unik dan inspiratif.(Yosep)
Penulis adalah pekerja yang magang di Yayasan Kasih Bangsa Surabaya dan mengikuti sekolah paralegal yang diadakan oleh Wadah Asah Solidaritas (WADAS)

