Menemukan Diri dalam Pelatihan Teater Rakyat

Bersama narasumber

Oleh: Indah Nur R
(PUK SP KEP PT Wings Driyorejo)

Berteater menyuarakan keadilan bagi buruh
Penampilan kelompok 1 teater rakyat di Basecamp coffe.

Gerbang itu terbuka perlahan. Hawa sejuk langsung menyergap, bercampur aroma tanah basah dan rimbun pepohonan yang mengelilingi lokasi. Saya datang bersama seorang teman, diantar ketua serikat dan salah satu pengurus, untuk mengikuti pelatihan teater rakyat yang diselenggarakan WADAS pada 14–17 Februari 2026 di Griya Samidi Vinsensius, Prigen.Gerimis sore menambah kesan teduh. Pepohonan rindang dari berbagai jenis berdiri mengitari area camping. Di hadapan kami, gunung tampak megah, separuh tubuhnya diselimuti kabut yang perlahan turun, seolah mengajak siapa pun yang datang untuk menepi sejenak dari hiruk pikuk keseharian.

Namun, suasana yang tampak tenang itu berbanding terbalik dengan perasaan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di lokasi pelatihan. Gelisah, senang, dan bingung bercampur menjadi satu. Ini adalah pengalaman pertama saya berkenalan dengan teater—sesuatu yang selama ini saya pahami sebatas dunia akting di atas panggung, jauh dari keseharian saya sebagai pekerja.

Keraguan dan rasa kurang percaya diri langsung muncul. Saya merasa pelatihan teater rakyat ini akan menjadi tantangan besar, karena tidak sepenuhnya selaras dengan bakat dan minat yang saya miliki. Di sesi pertama, tubuh saya kaku. Saya ragu mengekspresikan diri, enggan tampil, dan tanpa sadar terus membandingkan diri dengan teman-teman lain yang tampak lebih aktif dan percaya diri.

Perlahan, waktu mengerjakan tugasnya sendiri. Memasuki sesi-sesi berikutnya, saya mulai beradaptasi. Tema pelatihan “Bangkit Mengakui Diri sebagai Manusia Pekerja” pelan-pelan menumbuhkan keberanian dalam diri saya. Tema itu terasa dekat, relevan, dan menyentuh pengalaman hidup yang saya jalani sehari-hari. Saya mulai belajar membuka diri, mengurangi rasa takut akan kekurangan, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk belajar.

Meski saya belum bisa seaktif peserta lain, ada perubahan yang saya rasakan. Saya mulai menemukan kenyamanan dan menikmati prosesnya. Dari situ saya belajar satu hal penting: tidak semua hal harus langsung dikuasai. Kadang, yang paling penting adalah keberanian untuk mencoba dan konsistensi untuk terus berkembang.

Teater rakyat akhirnya memberi saya lebih dari sekadar pengalaman bermain peran. Ia menjadi ruang refleksi—tentang mengenali karakter orang lain, sekaligus memahami diri sendiri. Saat memerankan karakter yang bukan diri saya, saya justru semakin sadar: “ini bukan karakterku.” Dan dari kesadaran itulah, saya mulai menemukan siapa diri saya sebenarnya.

Share Button