Semua serba online, pasien rumah sakit masih antri

Orang- orang yang hendak berobat ke rumah sakit harus menempuh antrian yang berjam-jam. Sejak jam 3 pagi mereka sudah memenuhi ruang pengambilan nomer antrian pendaftaran rumah sakit. Parahnya mereka tidak langsung ambil nomer antrian, baru jam 5 pagi peserta dikasih nomer yang sudah duduk berbaris di kursi

Pasien Rumah Sakit William Booth Surabaya, Aminah, sejak tengah malam ia harus segara datang ke rumah sakit untuk ambil nomer antrian. Saya harus mendapatkan antrian lebih awal supaya cepat ditangani oleh dokter. Ucapnya. Itu hanya bisa di peroleh kalau sejak jam 3 pagi sudah mulai antri. Pada jam 5 pagi petugas akan memberikan kartu antrian.

Setelah dapat nomer antrian ia pulang dan baru jam 7 pagi antri lagi untuk mendaftar di proses adminitrasi. Kemudian setelah proses persyaratan berobat sudah lengkap. Ia harus antri lagi menunggu dokter yang bersangkutan. Proses ketemu dokter sudah selesai ia antri kembali untuk ambil obat. Jadi saya harus melalui 4 tahapan untuk berobat dan itu ditempuh selama setengah hari kalau ambil nomer antrianya jam 3 pagi. Ujarnya dengan kesal.

Sama halnya dengan antrian panjang pasien BPJS di RS dr Soetomo. Jacklin pasien yang mengidap penyakit paru-paru sudah antri sejak jam 2.30. Bersama pasien yang lain dia sudah antri. Agar tetap bisa bergerak yang antri cukup berkas-berkas berobat.

Terkait antrean panjang, pemerintah sudah seharusnya sejak awal menggagas BPJS sudah menggagas sistem komputerais secara online.

Dengan begitu masyarakat atau pasien yang mau berobat cukup membuka laptop atau HP, mereka sudah tahu nomor antreannya dan jam berapa dia harus datang.

Adanya proses pendaftaran secara online membuat masyarakat masih dapat melakukan aktivitas yang lain.

Jadi sudah ikut peserta BPJS, tapi pelayanan masih amburadul. Benar apa yang dikatakan oleh Eko Prasetyo, “orang miskin dilarang sakit”. Sudah bayar tapi masih harus menempuh proses yang melelahkan. (Mahrawi)

Share Button