Lewat arisan buruh dapat menjalin kebersamaan

Surabaya, Budaya berkumpul sudah menjadi tradisi masyarakat kita, tak terkecuali tradisi berkumpul semacam arisan. Tradisi arisan jamak kita lihat baik di desa maupun di kota. Yang ikut pun dari berbagai macam kalangan baik masyarakat kelas bawah, menegah, maupun atas. Di kalangan teman-teman buruh arisan tidak hanya sebagai sarana berkumpul atau menabung uang tapi juga sebagai sarana koordinasi. Seperti arisan yang adakan oleh Serikat Pekerja Sopir Trailer Indonesia (Sepasopati) Jawa Timur.

Mereka melakukan arisan setiap dua minggu sekali. Peserta yang ikut arisan sebanyak 72 orang dari jumlah anggota serikat 150 orang anggota. Mereka menyisikan uang 80 untuk uang arisan, 10 ribu untuk konsumsi dan 10 ribu untuk kas organisasi. Jadi total peserta arisan harus menyisihkan uangnya 100 ribu per dua minggu sekali.Peserta arisan akan di undi untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan arisan selanjutnya.

Sunari, peserta arisan yang kebagian arisan di minggu kedua bulan puasa, menuturkan bahwa dengan ikut arisan, anggota organisasi bisa berkumpul, tanpa ada arisan anggota Sepasopati sulit untuk berkumpul. Jadi arisan sebagai sarana berkoordinasi dan menjalin keakrapan. Katanya.

Setiap pertemuan arisan akan di adakan koordinasi kegiatan organisasi sekaligus di isi dengan doa tahlilan. Koordinasi dan doa tahlian akan di pimpin oleh ketua Sepasopati Nur Rohim dan sekjenya Bambang seperti yang dilakukan di rumah anggota Sunari (4/6/17).

Oleh: Mahrawi

Share Button