MENILIK BURUH KEBUN, JARINGAN WADAS DI JEMBER & BANYUWANGI

Pengorganisiran jaringan adalah salah satu kerja WADAS dalam upaya mendukung kegiatan dan gerakan serikat buruh. Melalui pengorganisiran tersebut, kami akhirnya mampu berjejaring dengan berbagai kelompok buruh atau serikat buruh dari berbagai sektor usaha dan salah satunya adalah kawan-kawan buruh yang bekerja pada sektor usaha perkebunan.

Berjejaring dengan kawan-kawan buruh yang bekerja pada sektor perkebunan adalah salah satu kekhas’an yang sangat kami syukuri. Melalui hubungan yang terjalin tersebut, baik kami maupun kawan-kawan buruh perkebunan bisa saling belajar. Oleh sebab itu, untuk selalu memupuk hubungan tersebut, kami melakukan kunjungan kepada kawan-kawan jaringan buruh yang bekerja pada sektor perkebunan yang berada di wilayah Jember dan Banyuwangi.

Kunjungan tersebut kami lakukan pada tanggal 29 sampai dengan 30 September 2021. Kunjungan pertama kami lakukan di tempat kawan-kawan buruh perkebunan karet di kabupaten Jember. Masuk jauh ke tengah-tengah area perkebunan karet, kami menemui kawan lama kami yaitu pak Sabar yang juga merupakan ketua Serikat Buruh Merdeka (SBM) di kediamannya.

Kedatangan kami di kediaman pak Sabar sangat disambut baik oleh beliau beserta keluarga. Dalam silaturahmi tersebut kami kembali mengingat nostalgia beberapa tahun yang lalu saat WADAS pertama kali melakukan pengorganisiran di perkebunan ini.

Saat itu, WADAS memberikan pendidikan seputar hukum perburuhan kepada kawan-kawan buruh perkebunan karet ini. Melalui pendidikan yang diberikan, para buruh perkebunan karet akhirnya memiliki kesadaran kolektif untuk bahu membahu memperjuangkan hak-hak normatif mereka. Hingga akhirnya mereka mampu untuk membentuk serikat pekerja sehingga mampu untuk mengadvokasi diri mereka sendiri.

Lalu terkait dengan kondisi terkini dari kegiatan dan gerakan serikat SBM, pak Sabar menuturkan bahwa sejauh cenderung pasif.

“Kami jarang kumpul-kumpul mas, karena pandemi ini juga. Paling ya kegiatan serikat yang jalan ya cuman pendataan ulang anggota aja, soalnya setiap tahun kan harus diperbaharui” Ujar Pak Sabar.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa;

“Jumlah anggota kami juga dari dulu ya tetap 105 orang, nggak nambah ya nggak kurang”

Melalui keterangan yang diberikan tersebut, kami menafsirkan bahwa kondisi yang terjadi ini disebabkan karena pandemi yang menyebabkan akses berkumpul menjadi terbatas sehingga ritme anggota serikat untuk berkegiatan menjadi lesu. Oleh sebab itu, kegiatan dan pendidikan pada serikat perlu digalakkan kembali oleh WADAS.

Setelah selesai kunjungan pada tempat pertama, kemudian kami melanjutkan kunjungan ke tempat kedua dan yang terakhir kami pada kunjungan kali ini yaitu ke area perkebunan di Kabupaten Banyuwangi.

Di perkebunan ini kami berjumpa kembali dengan dua kawan lawa kami yaitu Pak Najib dan Pak Dulawi. Pak Najib adalah seorang relawan yang selalu sedia menyediakan tempat tinggalnya untuk kami beristirahat dan berkegiatan sedangkan Pak Dulawi sendiri adalah pekerja tetap di perkebunan ini serta salah satu pengurus serikat yang ada di sini.

Melalui keterangan yang diberikan oleh Pak Najib, ia menjelaskan bahwa status pekerja di kawasan perkebunan ini sudah berubah, dari sebelumnya pekerja tetap di perusahaan perkebunan karena kepemilikan perusahaan perkebunan yang sering berubah-ubah maka hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan menjadi tidak pasti.

“Sekarang sudah nggak ada yang dikerjakan di kebun mas, kebanyakan orang-orang sini palingan ya cuman ngarit aja, orang-orang sini kerjanya malah di luar, cuman tinggalnya tetap di tempat ini (area perkebunan)” ujar Pak Najib.

Lebih lanjut ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena perusahaan pengelola perkebunan yang awalnya merupakan perusahaan tanaman tahunan/musiman kemudian beralih pada tanaman hortikultura sehingga tanpa disadari merubah sistem kerja para pekerja yang ada ditempat ini.

Senada dengan Pak Najib, Pak Dulawi menjelaskan bahwa kebijakan perusahaan yang mengganti jenis tanaman menyebabkan perubahan besar-besaran pada sistem pekerja di sini. Pekerja yang sebelumnya bekerja dengan perusahaan sekarang mereka kebanyakan menyewa lahan perusahaan untuk dikerjakan sendiri, jadi tidak menjadi pekerja di perkebunan lagi, melainkan sebagai penyewa lahan di sini.

“Mereka yang dulu kerja di sini mas, sekarang ini ya kalo yang punya modal bisa nyewa dan ngarap lahan yang ada, kalo yang nggak ada ya biasanya kerja sama yang nyewa lahan, jatuhnya yo kerja harian” ujar Pak Dulawi yang juga merupakan pengawas pada area perkebunan.

Akhirnya, melalui temuan-temuan dari hasil kunjungan yang kami lakukan di kedua tempat tersebut, kami akan melakukan pembahasan lebih lanjut terkait hasil temuan yang ada. Hal tersebut dilakukan agar bisa dilakukan terkait pemetaan terkait aktivitas apa yang bisa dilakukan guna mendukung dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada para jaringan perjuangan yang ada. (Penulis: Yohanes Baptista Cahaya Misjuan)