Kunjungan Mahasiswa Universitas Ciputra Bersama Wadas ke Jember

Potret Mahasiswa FIKOM UC dengan buruh karet di Sumber Wadung Jember setelah melakukan seragkaian kegiatan Bersama

Keikutsertaan Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Dalam pendampingan Wadas terhadap buruh di Jember menjadi pengalaman yang tak terlupakan, terjun langsung dalam kegiatan buruh karet hingga tinggal dalam rumah tikus peninggalan belanda menjadi pengalaman baru yang mengesankan pada libur akhir tahun. 

Kunjungan langsung oleh tiga mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra Surabaya ke Jember bersama Wadas pada tanggal 15 Desember 2021 lalu memberikan pengalaman berharga. Agung Prasetyo, Fika Fatimah, Vincentius Jose Augusto Bersama dengan Yohanes Baptista Cahaya Misjuan atau akrab dipanggil Kak Johan dari Wadas melakukan visitasi kepada buruh di Jember selama kurang lebih tiga hari. Perjalanan yang dimulai dari Surabaya pukul 08.00 WIB mengendarai travel menempuh jarak yang lumayan jauh dari pusat kota Jember. Kira – kira 45 menit perjalanan yang ditempuh dari pusat kota Jember menuju Perkebunan Sumber Wadung. Hujan dan gerimis tak lupa hadir mengiringi perjalanan mereka. Ditemani macet dan gerimis kecil akhirnya kurang lebih pukul 15.00 WIB rombongan tiba di rumah salah satu aktivis buruh lokal bernama Pak Sabar. Pak Sabar merupakan ketua dari salah satu organisasi buruh lokal yang ada di Sumber Wadung yang bernama “Serikat Buruh Merdeka”.

Berbekal kamera, informasi mengenai buruh dan properti lainnya tiga mahasiswa/i ini ingin menggali lebih dalam mengenai buruh dan kesempatan untuk mengambil gambar dan wawancara langsung dengan buruh di Jember, sekaligus menjadi kunjungan pertama wadas kembali setelah pandemi COVID-19 melanda. Tinggal di rumah sederhana yang sekomplek dengan “Rumah Tikus” menjadi hal baru untuk kami. Rumah Tikus adalah Kawasan perumahan untuk buruh yang sejak zaman Belanda  yang memang diperuntukkan untuk tempat tinggal buruh di sekitar kebun karena jarak kebun dengan pemukiman warga lumayan jauh. Bagunan belanda yang masih asli dan minim renovasi.

“Di hari pertama setelah tiba, kami langsung mempersiapkan diri untuk kegiatan pertama. Pak Sabar dengan keluarganya sangat menyambut hangat kedatangan kami. Di malam itu kami langsung diceritakan keadaan, awal mula, dan masalah apa saja yang sudah beliau dan buruh-buruh lalui. Surat-surat yang Pak Sabar kirim sampai surat kepada Presiden SBY benar-benar kita lihat.” Ucap jose salah satu mahasiswa FIKOM UC. Tidak hanya berhenti disitu kami diajak untuk memasukkan olahan pil herbal alami hasil produksi SBM “Serikat Buruh Merdeka” sebagai vitamin penambah energi untuk para buruh. Keesokan harinya tepat jam 02.00 WIB tengah hari saya dan jose mengikuti kegiatan sehari – hari yaitu berkebun karet pada dini hari, hal ini dilakukan karena menghindari getah karet yang mengering karena terkena sinar matahari. Suasana malam yang dingin, gelap, dan menggunakan peralatan seadanya cukup menantang adrenalin kami sebagai mahasiswa yang masih awam akan kegiatan dalam perkebunan karet. Kegiatan berkebun atau biasa disebut deres dilakukan jam dua dini hari hingga jam lima fajar, lalu di pagi harinya akan menunggu untuk dikumpulkan pada mandor dari hasil yang didapat selama deres. Banyak fakta – fakta unik tentang karet atau bahan baku latex ini dimana ketika mentah mempunyai bau yang menyengat, tidak hanya itu untuk pengepulan harus melalui proses pembersihan dan penimbangan untuk selanjutnya dibawa oleh pengepul atau mandor.

Siang hingga sore hari adalah waktu istirahat setelah melakukan aktifitas dan ikut pendampingan buruh karet, kami pun bercengkrama dengan lingkungan disana, ikut melakukan aktifitas yang dilakukan oleh orang – orang yang ada disekitaran komplek rumah perkebunan.

            Malam tiba, kami melakukan kunjungan pada buruh di perkebunan karet dengan lokasi yang berbeda, di kaki gunung gumitir dimana akses menuju kaki gunung yang cukup sulit, tidak adanya bangunan jalan dan melewati akses jalan hutan hingga menyebrangi sungai  untuk mendapatkan waktu dari buruh kami mengambil waktu di malam hari dimana buruh sedang tidak melakukan aktifitas kerja ataupun kegiatan rumah, pada 20.00 WIB berangkat dan menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Kami mendapat banyak insight dimana membuka mata terhadap buruh dengan pandangan yang lebih luas lagi, lalu menggali informasi tentang buru, kegiatannya bersama Wadas, edukasi yang Wadas berikan hingga perubahan dan inovasi yang buruh dapatkan setelah bersama Wadas.

Lalu keesokan harinya kami mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk berkunjung dan berbagi cerita dengan salah satu buruh, kami mendapat oleh – oleh hasil kebun berupa sayur dan juga madu asli hasil kebun sendiri yang dimiliki buruh. Setelah serangkaian kegiatan yang diklakukan selama dua hari, kegiatan kunjungan ini  diakhiri dengan penyerahan merchandise dari Universitas Ciputra Surabaya kepada Pak Sabar.

Tentu kedatangan kami menjadi hal yang sangat luar biasa dan pengalaman yang tidak terlupakan. Kami mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diterima dengan baik, serta pulang membawa banyak pengalaman, ilmu, dan bonus oleh – oleh yang diberikan dari buruh kepada kami. Pada sore hari kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Surabaya dalam akses pulang kami perlu menempuh perjalanan menuju halte di jalan raya yang kurang lebih 30 menit dari perkebunan hingga ke jalan raya. setelah menunggu 1 jam untuk mendapatkan bus angkutan akhirnya kami pun bersama Wadas dapat kembali ke Surabaya dengan selamat. (Penulis: Fika, Agung, Jose Mahasiswa Fikom UC)

Share Button