lembur

Buruh sedang aksi menuntut uang lembur

“Maaf pak, teman-teman kalo hari minggu siang gak ada yang bisa ikut pertemuan. Mereka bisanya setelah jam 4 sore karena mereka banyak yang cari lemburan untuk tambah-tambah gajinya.”

Itu kata-kata yang keluar dari seorang teman yang bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan ketika aku hubungi untuk aku ajak mengadakan pertemuan serikat. padahal aku mencoba untuk mencari waktu dimana mereka tidak disibukkan lagi masalah pekerjaan, dan menurutku hanya hari Minggu dimana seharusnya mereka libur dan memiliki waktu luang.

Tapi itulah keadaan yang sebenarnya dihadapi oleh banyak buruh di negeri ini. walau mereka sudah mendapatkan gaji bulanan tapi kenyataannya gaji itu memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka satu bulan, sehingga mereka harus mencari tambahan dengan cara lembur dihari libur dimana mereka seharusnya dapat beristirahat menikmati waktu bersama keluarga. tentu bagi mereka yang upahnya masih jauh di bawah UMR akan lebih menjerit.

Kondisi saat ini tentu membuat mereka juga akan semakin terjepit oleh kebutuhan ekonomi dimana bahan kebutuhan pokok yang naik tidak terkendali. di satu sisi para buruh juga khawatir akan nasib mereka yang bisa di PHK kapan saja oleh perusahaan apalagi dengan undang-undang cipta kerja yang baru ini memudahkan para pengusaha untuk mem-PHK mereka.

tanpa disadari keadaan membuat para buruh kehilangan kesempatan untuk berinteraksi baik dengan keluarga maupun lingkungan dimana mereka tinggal atau dapat dikatakan mereka menjadi terasing dalam lingkungan mereka sendiri karena disibukkan untuk mencari tambahan penghasilan agar kebutuhan mereka terpenuhi terutama untuk pendidikan anak-anak mereka.

Tanpa buruh tidak ada kemakmuran, itulah yang cuplikan dari Sophocles seorang penulis di zaman Yunani. Memang buruh merupakan bagian penting dari sebuah perkembangan negara, namun kenyataannya mereka adalah salah satu kelompok masyarakat yang justru tidak dapat menikmati kemakmuran. buruh hanya dianggap mesin industri yang mendatangkan keuntungan atau devisa bagi kelompok tertentu. Sampai kapan mereka akan terus ditindas atas nama kemakmuran?

Share Button