Isnah, janda tua 55 tahun itu pandai sekali berkelakar, tak satupun bahan yang luput menjadi bahan leluconnya. Dari kebiasaannya yang gemar memberi makan tikus di rumahnya hingga perilaku tetangganya yang gemar sekali bergunjing, semua dapat menjadi bahan obrolan. Rumah reyot yang dihuni oleh isnah seorang diri itu terasa ramai sekali saat Isnah tertawa terbahak-bahak.
Isnah bekerja di perkebunan menggantikan ayahnya yang wafat saat dirinya berusia 20 tahun, artinya Isnah telah bekerja sebagai buruh kebun selama tiga puluh lima tahun. “Saya kerja apa aja, pokoknya disuruh mandor apa ya…. saya kerjakan.”, tutur Isnah. Selayaknya buruh kebun lainnya, ia bekerja sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 12.00, di atas jam 12.00 sudah tidak mungkin lagi sebab terik matahari sudah tidak dapat ditolerir. Di dalam perkebunan ia mencangkul, terkadang menanam bibit, memupuk, atau memangkas rumput. Upah per hari yang diterima Isnah adalah Rp35.000 per hari dan mendapatkan libur di hari minggu. “Alako e kebon neka sara, panas, tel getel, biasana atemo bik olar.” (Bekerja di kebun itu sengsara, panas, gatal, kadang ketemu ular), tutur Isnah tentang lingkungan kerjanya.
Isnah memiliki satu orang anak laki-laki bernama Tejo, yang bekerja sebagai penjaga toko di pusat kota Banyuwangi. Tejo hanya lulusan SD, tak ada biaya untuk menyekolahkan Tejo. Penghasilan Tejo per bulan Rp800.000 bekerja dari Sabtu hingga Kamis, upah yan jauh di bawah upah minimum. Tejo akan memanfaatkan waktu liburnya di hari Jumat untuk mengunjungi ibunya yang sudah mulai renta.
Isnah merupakan pekerja tetap di perkebunan dan tentunya mendapatkan jaminan kesehatan, kepesertaan jaminan hari tua Jamsostek, serta tunjangan hari raya dari perusahaan perkebunan. Pekerja tetap di perkebunan nasibnya sedikit lebih baik dari pekerja harian yang diupah Rp15.000 hingga Rp20.000 per hari, tanpa uang pesangon saat diberhentikan, tanpa jaminan kesehatan bahkan tanpa tunjangan hari raya. Status pekerja tetap yang dimiliki Isnah dapat diwariskan kepada anak atau keluarganya jika Isnah memutuskan untuk pensiun, tetapi Isnah tidak berkeinginan untuk mewariskan pekerjaannya, “Engkok tak rela mon tang anak alako dadih koeli, lakohna cek sarana, manusah eanggep hewan, cokop engkok bei se alako e kebon.” (Saya tidak rela kalau anakku kerja jadi kuli kebun, pekerjaan ini sangat berat, manusia disamakan seperti hewan), tutur Isnah.
Tejo tahun ini berusia 25 tahun dan Isnah selalu berdoa agar anak lelakinya itu sukses bekerja sebagai sopir. Tak sedetikpun terbersit di Isnah anaknya bekerja sebagai kuli kebun apalagi mewariskan pekerjaan sebagai buruh kebun kepada anaknya.
Dalam hati Isnah selalu berdoa agar anaknya segera mendapatkan pasangan hidup tapi Tejo sendiri belum bersedia meminang seorang gadis. “Tak elem akabin, ta dek peseh cak en.” (Tak ingin menikah, tidak ada uang katanya). Sekalipun pemuda desa umumnya telah menikah di usia 25 tahun, Isnah memahami benar keputusan Tejo untuk tidak menikah di usia muda, menikah membutuhkan kesiapan ekonomi yang cukup, kesiapan ekonomi yang entah kapan bisa diraih.
Oleh : Mahrawi
Staf Wadas bidang Pendidikan, tinggal di Banyuwangi.


