Erlik, warga Tropodo I Waru, Sidoarjo Jawa Timur merintis usaha kue kering. Setelah keluar dari pabrik sepatu, ia sempat berfikir untuk bekerja di pabrik lagi, tapi ia akhirnya, memilih buka usaha bersama tetangga.
Setiap hari, dia melihat ibu-ibu di kampungnya tidak punya aktivitas, selain mengurusi keluarga, memasak dan mencuci. Ibu-ibu setelah pekerjaan rumah tangga selesai, mereka memilih ngrumpi sambil petan(cari kutu rambut), apalagi di sore hari mereka pada berkumpul di depan rumah.
Ingin ibu-ibu dikampungnya bisa berkumpul dan juga punya penghasilan, Erlik mengajak beberapa ibu yang bisa bikin kue untuk bikin kue kering. Bermodalkan uang pesangon, ia memulai usaha jajanan. Hasil kue mereka jual ke beberapa tetangga dan teman yang dia kenal.
Untuk pemasaran kue, Erlik yang memasarkan ke mana-mana apalagi perempuan satu anak ini punya pergaulan yang cukup luas.
Saat menjelang puasa dan lebaran banyak yang pesan kue. Baik untuk dimakan sebagai camilan sehari-hari atau sebagai suguhan kue lebaran. “Yang pesan kue lumayan banyak, ibu-ibu merasa terbantu dan saya pun senang karena sama-sama memproleh untung dan berkembang,”ujarnya.
Perempuan yang selalu tampak ceria walaupun mengalami masalah mengatakan, dengan adanya usaha kue, dia bisa menambah pendapat ekonomi keluarga. Tapi usaha olahan warganya masih terkendala pemasaran dan modal sehingga perkembangan usahanya agak tertatih-tatih. Ia berharap teman-teman yang dia kenal maupun yang belum, mau membeli kue hasil olahanya. Dengan membeli kue keringnya, juga turut membantu kaum perempuan bangkit dan berkarya. (Mahrawi)

