Ditulis Oleh Dannis Seniar Yullea Paripurna, S.T.
Hari Buruh Internasional yang diperingati tiap tanggal 1 Mei, seolah identik dengan unjuk rasa. Hampir tidak pernah terjadi di Republik ini, peringatan hari buruh tanpa melibatkan massa turun ke jalan. Dari tahun ke tahun tuntutannya hampir sama, yakni soal pemutusan hubungan kerja, kecilnya upah, status hubungan kerja, serta minimnya kesempatan dan lapangan kerja. Bisa disimpulkan, buruh masih merasa tingkat kesejahteraannya rendah. Namun demikian, masih sangat banyak orang yang ingin menjadi buruh. Tentu pengertian “buruh” di sini juga meliputi karyawan di berbagai bidang dan industri.
Subhan adalah salah satu dari korban pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh perusahaan. Pernah bekerja 17 tahun sebagai buruh di PT Siwi, Driyorejo, Kabupaten Gresik. Pria berusia 49 tahun ini sekarang menjadi pengecer bahan bakar minyak didepan rumah yang terletak di pinggir Jalan Raya Claket – Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Dengan hati-hati, Subhan menakar bahan bakar minyak jenis pertamax untuk dijual. Mendapat keuntungan hanya Rp. 1.500 per botol pertamax untuk bertahan hidup. Penjualannya meningkat rata-rata sampai 20 botol ketika ahir pekan karena banyak kendaraan bermotor yang menuju lokasi wisata pemandian air panas Pacet. Sepanjang jalan ini, ada 10 orang yang memiliki usaha sama.
“Piye maneh Mas, ijasahku cuma lulusan SMP tok. Wes tuwek pisan, mosok ono pabrik sing isok nerimo aku (gimana lagi Mas, ijasahku hanya lulusan SMP saja. Sudah tua, apa ada pabrik yang mau menerima?)”, pasrahnya.
Sebelum diberhentikan dari pabrik, pria kelahiran Mojosari ini mampu menyisihkan sebagian upah untuk modal usaha istri membuka toko kelontong yang menjual rokok serta kebutuhan harian rumah tangga. Munculnya toko kelontong pesaing berjarak 25 meter dari lokasinya dan kebijakan pemerintah yang mengeluarkan aturan pelarangan penjualan bahan bakar minyak jenis premium semakin menurunkan pendapatan. Namun hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk berhenti berjualan.
“Ujung-ujunge mati, sing pasti kudu ikhtiar karo pasrah”, pungkas lelaki berkumis ini menjalani hidup dengan rasa syukur dan memasrahkan kehidupannya kepada Tuhan.

