Pertemuan Nasional FPBN XXI

Pendamping buruh harus seperti GPS, sabar ketika yang didampingin mengambil arah yang tidak sesuai rute, pendamping harus tetap memberi alternatif rute agar sampai pada tujuan
Analogi ini disampaikan oleh romo Bimo, OFM. dalam PERNAS FPBN XXI di hotel Bunga Bunga Jakarta tanggal 30 Agustus sampai 1 September 2019. Dihadiri beberapa perwakilan dari Lembaga otonom yang tergabung dalam FPBN seperti WADAS Suraya, LPUBTN dari Semarang, Lembaga Daya Dharma dari Keuskupan Agung Jakarta, keuskupan Bogor, Keuskupan Bandung, Makasan, Palembang dan PSE Purwokerto.
PERNAS FPBN XXI diawali dengan Misa pembukaan yang dipimpin oleh Mgr. Ig.Suharyo – Uskup Agung KAJ, Ketua KWI. Dalam khotbahnya Mgr. Ig.Suharyo menekankan pentingnya gerakan Belarasa bukan sekedar sebuah kegiatan dalam mendampingi buruh dan pentinganya sebuah perjumpaan.
Tema yang diusung dalam pertemuan Nasional FPBN ke XXI kali ini adalah “Perjumpaan yang menggerakkan”. Melalui perjumpaan diharapkan dapat para pendamping buruh yang tergabung dalam FPBN dapat saling bertukar pengalaman dalam pendampingan serta saling menguatkan satu sama lain.
Melalui gerakan pembangunan ekonomi mandiri untuk buruh berbasis koperasi, diharapkan masing-masing lembaga otonom yang hadir dapat juga mengerakkan kembali gerakan koperasi buruh yang telah disepakati dalam Pertemuan Nasional FPBN pada tahun sebelumnya. (Andri)

