
Akhir-akhir ini, negara kita sedang mengalami gejolak dari berbagai kalangan aksi yang ada di berbagai daerah. Gejolak ini dimulai dari adanya rencana revisi UUK No. 13 Th. 2003, aksi di Papua dan Papua Barat sebagai buntut dari penyerangan Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, rencana revisi UU KPK yang dinilai mengkebiri kekuatan KPK dalam memberantas korupsi di negara kita, dan kemudian rencana revisi UU KUHP yang dinilai masyarakat ada kejanggalan dalam hukum pidana yang terlalu memberatkan pada pelanggaran yang bersifat “receh” dan meringankan tindakan pidana yang besar, seperti kasus korupsi. Yang membuat rakyat Indonesia semakin bergejolak ialah bagaimana rencana revisi undang-undang tersebut dimunculkan ke permukaan secara tiba-tiba dalam waktu yang sangat cepat.
Isu-isu tentang rencana revisi undang-undang tersebut akhirnya memunculkan kegelisahan bagi kaum buruh yang berkaitan dengan revisi UUK, mahasiswa yang semakin bergejolak dengan beberapa revisi undang-undang KPK dan KUHP. Akhirnya muncul berbagai aksi demo yang terjadi di berbagai daerah, seperti aksi di Jakarta, Yogya, Malang, Makasar, Surabaya, Semarang, Jombang, Pare-pare, dan di berbagai daerah lainnya yang ditunggangi oleh kaum buruh dan mahasiswa. Salah satu tuntutan yang didengungkan ialah supaya Jokowi sebagai Presiden RI membatalkan seluruh revisi UU yang dianggap tidak menyejahterakan masyarakat Indonesia. Inilah sasaran tembak yang didengungkan dalam aksi-aksi tersebut. Di tengah aksi-aksi tersebut, muncul juga sasaran tembak lain yang mendengungkan bahwa Jokowi harus turun tahta karena dianggap mengingkari janji-janji kampanye dalam Pemilu yang telah dilakukan sebelumnya.
Jika dicermati, tampaknya ada dua sasaran tembak dalam aksi-aksi yang ada dan tentunya ada yang menunggangi dan memiliki kepentingan lain yang dapat dikatakan sedang memanfaatkan gejolak yang terjadi saat ini. Tentu saja dua sasaran tembak ini perlu dicermati oleh setiap orang yang ingin ikut aksi.
Saya tertarik dengan cuitan dalam grup WA YKBS dan mungkin cuitan ini perlu untuk disampaikan kepada semua orang. Dalam cuitan tersebut dikatakan bahwa “teman-teman, hati-hatilah dengan aksi-aksi yang sekarang ini sedang terjadi. Jika anda terlibat dalam aksi-aksi ini, saya kira sangat baik. Tetapi, coba perhatikan poster/ spanduk-spanduk dan orasi-orasi yang didengungkan. Dari sinilah kita akan tahu siapa yang sebenarnya menjadi sasaran tembak dari aksi-aksi ini. Saya kira baik kalau kita mengamati dari dekat aksi-aksi tersebut. Gugatan dan tuntutan yang digaungkan sebagai undangan sangat masuk akal, tetapi apakah murni seperti itu? Gerakan-gerakan ini juga diibaratkan seperti orkestra musik horor, sporadis di berbagai tempat, ada dirigennya, dan membahayakan kalau dibiarkan.”
Apa yang sedang terjadi saat ini memanglah menjadi bukti bahwa sebenarnya masyarakat sedang bergejolak, tetapi kita juga tidak boleh hanya asal ikut-ikutan tetapi tidak tahu dan tidak jelas arah tembakan yang akan kita lepaskan. Kita harus jeli melihat sasaran tembak dari setiap aksi-aksi yang kita ikuti. Salah satu langkah yang mungkin cukup baik untuk dilakukan ialah bagaimana kita harus membaca arus pemikiran orang-orang di sekitar kita, kemudian mengkritisi dan menganalisanya. Hal ini perlu dilakukan supaya kita tidak hanya ikut arus, melainkan mengerti sasaran tembak dari aksi-aksi tersebut. Dengan demikian kita bisa jeli melihat sasaran tembak yang benar dari setiap aksi, yang diharapkan akan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, bukan hanya untuk kepentingan beberapa golongan yang sedang memanfaatkan gejolak yang sedang terjadi sekarang ini. (Fr. Ovan, CM)

