KEKUATAN DALAM KESATUAN

Foto bersama kawan-kawan SPBI-Merak Jaya

Kekuatan dalam kesatuan hikmat yang bisa kita tarik dari semut adalah kebijaksanaan semut yang mengumpulkan makanannya untuk musim dingin, tetapi hikmat apa yang masih bisa kita petik jika semut tak lagi mendapatkan makanan untuk musim dingin? Tepat sekali, kesatuannya. Saya kira demikianlah yang dapat saya lihat ketika berjumpa dengan kawan-kawan buruh yang tergabung dalam serikat pekerja SPBI-Merak Jaya.

Pada tanggal 14 Mei 2022, saya bersama Wadah Asah Solidaritas atau biasa disebut WADAS (Divisi Perburuhan Yayasan Kasih Bangsa Surabaya) mendapat kesempatan untuk berkunjung ke kawan-kawan buruh SPBI-Merak Jaya. Menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari Surabaya, kami akhirnya tiba di kediaman salah satu anggota mereka yang terletak di Desa Poh Gading, Pasuruan.

Sesampainya disana, kami disambut hangat oleh mereka yang hadir, kira-kira 15 orang jumlahnya. Sembari menyambung silaturahmi dalam suasana Idul Fitri, kami pun berbincang-bincang tentang keadaan mereka pasca mendapat pemutusan hubungan kerja sepihak oleh perusahaan.

Di dalam suasana perjumpaan dan bincang-bincang yang terjadi, saya bisa merasakan kesatuan yang ada di dalam diri mereka. Bagaimana selama satu tahun ini, mereka menyatukan kekuatan yang mereka miliki.

Satu tahun, ya, kurang lebih satu tahun mereka memperjuangkan hak mereka yang ditahan oleh perusahaan. Berbagai proses demi proses perjuangan sudah mereka lewati, dari langkah normatif hingga langkah hukum ditempuh untuk memperjuangkan hak-hak yang harus mereka miliki. Perjalanan perjuangan mereka mungkin masih panjang, namun harapan itu akan selalu ada. Setelah sekian lama, akhirnya mereka akan bertemu perwakilan perusahaan yang difasilitasi oleh pemerintah untuk membahas tentang hak-hak buruh yang semestinya mereka terima.

Mereka adalah korban pemutusan hubungan kerja dari satu perusahaan yang cukup besar namanya. Semua spontan menjadi sulit, bayangan tentang biaya sekolah anak memudar, biaya mengurus orang tua memudar, bahkan biaya hidup sehari-hari pun turut memudar, semua tak seperti dulu lagi. Dalam diam mereka berdoa “Tuhan tak akan memberi pencobaan melebihi kekuatan kita. Tuhan pasti membuka jalan” Layaknya sekelompok kecil semut yang berjuang mencari makan di celah-celah bebatuan, demikianlah mereka meretas hidup di tengah masa-masa penuh keterbatasan.

Ancaman telah menjadi makanan ringan bagi mereka. Tekanan pertama saat mereka hendak tergabung dalam serikat buruh memang sempat membuat mereka bergeming, tapi seiring waktu semua selayak angin lalu. Tuhan telah meletakkan kekuatan di dalam solidaritas. Setiap luka ditanggung bersama, setiap jerit diredam bersama, semua rasa dikepal di dalam doa demi keluarga & keadilan sosial yang semestinya. Saya pun turut mengaminkan, kita akan tertawa bersama.

Kita sehati. Kita buruh. (Chrispy)

Share Button