Sepertinya mereka siap sekali diajak bertempur. Setidaknya itulah yang dapat saya lihat dari mata setiap peserta Sekolah Paralegal Perburuhan 21-22 mei 2022 kemarin.
Dalam hati saya berkata “wah, betapa saya berdiri di antara para jenderal hari ini”. Saya merasa amat beruntung bisa menghirup segarnya udara kota Pacet ditengah-tengah mereka.
Seperti yang saya duga, saya pasti mendapat sesuatu yang menarik. Dalam suatu sesi saya mendapat sesuatu yang menarik sekali, saat itu narasumber menyampaikan sebuah cerita pendek bahwa ada sebuah perusahaan yang membayar seorang pemuka agama untuk mengkondisikan para buruh yang hendak melakukan aksi menuntut hak-haknya. Deretan kalimat seperti “Sesungguhnya Tuhan beserta orang yang sabar; Gusti mboten sare; semua indah pada waktunya” dan banyak deretan kalimat peneduh lainnya pasti berseliweran di telinga para buruh tersebut yang mana sebenarnya semua kalimat-kalimat itu dimotifkan sebagai pengalihan isu agar para buruh teredam & tidak melakukan aksi. Mata saya hampir sembab membayangkan kejadian ini.
Menyadari medan juang para buruh dari sisi ini membuka mata saya akan mendesaknya serikat buruh untuk meningkatkan pengaruhnya sesuai konteks zaman ini. Bagaimana tidak, jika sejak dulu secara politik perjuangan buruh hampir-hampir tidak memiliki dukungan dan ditambah sekarang agamawan pun bisa dibeli untuk meredam perjuangan buruh maka suara buruh akan makin redup yang berakibat pada ketidakadilan yang makin berkepanjangan.
Zaman telah berubah, dinamika perburuhan semakin kompleks, serikat pun harus memperlengkapi diri dengan pejuang-pejuang spesialis dan senjata-senjata yang sesuai dengan konteks zaman ini dan saya percaya para jendral di tempat ini akan melahirkan perubahan-perubahan besar kedepan.
22 mei 2022, Dinginnya kota Pacet terasa biasa saja karena para peserta masih membara di hari yang kedua, sementara itu benak saya masih sulit melepas sepintas pendapat dari narasumber semalam yang lebih memilih Cut Nyak Dien sebagai icon pejuang wanita dari pada R.A Kartini. “R.A Kartini cuma menulis ‘habis gelap terbitlah terang’ tetapi dia lebih diunggulkan sebagai pahlawan wanita dari pada Cut Nyak Dien yang bertaruh nyawa melawan Belanda” tukas pak Lasmidi sebagai narasumber malam itu. Yang menarik perhatian saya bukan perbedaannya tetapi justru kesamaannya, yakni mereka adalah wanita. Dua wanita dengan tipe perjuangan yang berbeda. Yang satu berjuang di segi kemerdekaan intelektual yang lain berjuang di segi kemerdekaan dari perbudakan. Lantas apa hubungannya dengan serikat? Serikat buruh butuh pejuang wanita. Saya kira kebutuhan akan aktivis wanita adalah sisi kosong pada tubuh serikat. Wanita itu khas, dari dulu hingga sekarang mereka selalu lebih cepat menarik perhatian daripada pria. Peran wanita sangat diperlukan jika serikat ingin membuat lompatan besar dalam setiap rencana & pergerakan. Tak boleh kita lupakan bahwa pria & wanita diciptakan untuk saling melengkapi. Ungkapan ini sepertinya klise/sepele tetapi mendasar sekali, bahwa apa yang kurang dari pria bisa ditemukan pada wanita.
Sekolah Paralegal Perburuhan telah selesai. Masing-masing narasumber telah menambahkan setangkup bara panas di jiwa para jendral ini untuk memperbesar api kegerakan perburuhan di lokalnya masing-masing.
Saya masih melihat satu kebutuhan lain yang perlu dimiliki oleh serikat dan ini akan semakin melengkapi tubuh serikat. Kebutuhan itu adalah peran aktivis penggiat media sosial.
Di jaman ini dimana kampanye, penghimpunan kekuatan, penggiringan opini dapat dilakukan di media sosial maka bukan tidak mungkin sepuluh tahun kedepan orang-orang bisa menggulingkan kekuasan menggunakan kekuatan media. Demikian juga kita harus melihat para pejuang buruh memiliki peluang seluas-luasnya untuk mencapai kesejahteraan jika cerdas menggunakan media. Kita harus mengakui media itu kuat, hanya saja kita perlu kecerdasan & daya kreativitas untuk menggunakan kekuatan itu. Diperlukan seorang yang produktif dalam membuat meme tentang nasib buruh, membuat video tentang ilmu paralegal perburuhan atau membuat lagu-lagu provokatif yang sifatnya menyadarkan seperti karya-karya Iwan Fals. Jika kita hanya bergerak dari sisi pendidikan sekolah paralegal perburuhan maka hal itu akan sulit menarik minat orang & pergerakan serikat mencari dukungan akan tetap lambat, tetapi jika kita produktif & kreatif memanfaatkan kekuatan media maka pergerakan serikat secara tidak langsung menjadi masiv. Orang yang biasa-biasa atau bekerja dengan cara lama akan tenggelam dalam kerata-rataan, tetapi orang yang bekerja dengan kreativitas akan mencapai hal-hal baru & perhatian publik. Hal ini bertujuan apa? Untuk jangka pendek perjuangan ini akan membuat aktivis itu sendiri akan menjadi icon di lokal tempat dia berkarya yang mana di tiap keberadaannya akan ditengarai sebagai “pejuang perburuhan”. Yang ke dua akibat dari produktivitas aktivis penggiat media sosial ini akan menciptakan atmosfer transfer spirit yang mana akan menyalurkan pikiran & perasaan serikat ke banyak orang sehingga pikiran & perasaan itu menjadi jeritan masal. Untuk jangka panjang pengaruh aktif dari aktivis penggiat media sosial ini akan melahirkan pasukan-pasukan bayangan. Masyarakat yang mulai mengerti & sadar akan hak-haknya oleh transfer spirit serikat akan mulai menaruh hati pada gerakan-gerakan serikat perburuhan. Walaupun mereka tidak terjun langsung tetapi mereka bisa lebih mudah dipantik atau dimintai dukungan.
Bercermin dari kasus Basuki Tjahaja Purnama yang menyeret Buni Yani (tokoh penggiat media) dan habib Rizieq (tokoh agama) menyadarkan kita bahwa tokoh agama & penggiat media itu punya pengaruh kuat, hingga bisa menarik masa & menggulingkan kekuasaan. Maka dari itu kita perlu memanfaatkan kekuatan media.
Tatkala aktivis ini dalam keadaan tidak diuntungkan atau hendak melakukan aksi, para pasukan bayangan ini mungkin tidak bisa ikut aksi tapi mestinya bisa dimintai bantuan dengan tema kesadaran oleh sebab kita sudah satu spirit. Seperti aksi seribu lilin, aksi kirim bunga bisa kita viralkan & menjadikan suatu gerakan massal. Kita bisa juga membuat aksi “segenggam beras” yaitu aksi memberi beras sekedarnya untuk mendukung buruh yang melakukan aksi. Bisa sangat sulit mencari dukungan satu karung beras dari serikat saat melakukan aksi, tetapi dengan banyak pasukan bayangan maka bantuan akan lebih mudah didapat. Itulah fungsi dari aktivis penggiat media sosial.
Saya menyebut mereka triwira. Triwira inilah yang perlu dimiliki oleh serikat untuk melengkapi & mempersenjatai diri dalam konteks perjuangan buruh di zaman ini. Triwira itu adalah pemuka agama, aktivis wanita & aktivis penggiat media sosial.
Jadi, serikat perlu merangkul pemuka agama bukan hanya sebagai tokoh yang bisa dimintai nasehat tetapi juga sebagai mediator bahkan tameng penetralisir dari serangan balik perusahaan yang mengangkat pemuka agama untuk meredam suara buruh menuntut keadilan. Serikat buruh juga perlu merekrut aktivis-aktivis wanita oleh karena kodratnya yang melengkapi apa yang kurang dari khasnya kodrat pria & juga serikat buruh perlu memiliki aktivis penggiat media sosial untuk meningkatkan pengaruhnya ke masyarakat luas, agar serikat memiliki banyak pasukan bayangan & calon-calon kuat menjadi advokat yang memperjuangkan hak-hak buruh. Semua itu demi kehidupan buruh yang lebih baik. (Penulis: Christ Pinujo Adhy Daniel adalah Peserta Sekolah Paralegal Angkatan ke-V, ia juga seorang Karyawan di sebuah Sekolah Menengah Atas Swasta di Surabaya)

